SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU MUNASABAH
Vivi Adelia
Pendahuluan
Al-Qur'an,
secara literal berarti "pembacaan yang sempurna." Nama Allah memilih
nama yang tepat karena manusia mengetahui cara membaca serta menulis sebanding
dengan Al-Qur'an 5000 tahun yang lalu, mereka tidak bisa membaca apa-apa.
Alkimia, bacaan yang sempurna dan mulia. Al-Qur'an dibaca oleh ratusan juta
orang. Dan tidak ada yang menyamai Al-Qur’an serta yang tidak mengerti
Al-Qur'an tidak dapat ditulis dalam arti atau huruf. Flat Dewasa, remaja dan
anak-anak menghafal satu huruf pada satu waktu.[1]
Tentunya sebagai referensi, Anda
harus memahami Al-Qur'an baru kemudian kalian dapat mengamalkannya. Salah satu
cara yang dapat dilakukan agar dapat memahami Al-Qur'an dengan cara yang
berbeda, yaitu dengan munasabah. Fokus perhatian Munasabah terhadap ilmu
pengetahuan berkaitan dengan aspek keterkaitan antar puisi.Karakter dalam
urutan teks. Ilmu Munasabah lebih penting bagi Mufassir, Tentang ilmu
asbabnuzul. Subhi as-Salih berkata, itu wajar untuk penjelasan Mengingat begitu
banyak manfaat, Munasabah lebih
diutamakan daripada Asbab Nuzul itu muncul dari ilmu meditasi. Selain itu,
aturan interpretasi adalah ukuran Memahami tulisan suci adalah editorial umum,
bukan penyebab turunnya ayat.[2]
Untuk itu penting bagi kita mengaji
Ilmu Munasabah, untuk menemukan hubungan dekat di
beberapa bagian Al-Qur'an. Maka dari itu Ilmu Munasabah perlu diteliti untuk
mendapatkan pengetahuan lengkap dari Ilmu Munasabah.[3]
Pengertian Ilmu Munasabah
Munasabah menurut bahasa berasal
dari akar kata bahasa Arab nas{aba yans{ibu. Ini
memiliki arti yang sama dengan Al-Muqarabah atau. Mushakara.[4] Dari
segi istilah, kata "posisi" yang artinya pemahaman tentang berbagai
hubungan dalam Al-Qur’an. Secara lebih rinci Munasabah yaitu hubungan yang dapat
dijelaskan denagn usaha posisi pemikiran untuk menggali rahasia hubungan antara
ayat atau huruf dalam Al-Qur'an yang dapat diterima.[5]
Lebih banyak definisi, posisi yang
dipegang oleh beberapa ulama adalah sebagai berikut:
a)
sebuah
Jalal al-Din Abd’ al-Rahman al-Suyuti berkata: Ilmu tasbih Tampaknya terkait
dengan ayat-ayat Al-Qur'an ini adalah ekspresi dengan makna terpadu mengedit
keteraturan,
b)
Syekh
Manna Al-Qattan berkata: Ilmu berbicara tentang aspek asosiasi Atau hubungan antara kalimat yang satu dengan ayat yang lain,
hubungan antara ayat yang lain dengan ayat
yang lain dengan karakter yang sama atau berbeda [6].
Apalagi para ulama sekali lagi
mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dalam posisi ini sangat berguna dalam
memahami keselarasan antara makna, keajaiban Al-Qur’an dalam retorika,
kejelasan penafsiran, dan keteraturan susunan kalimat dan keindahan gaya
bahasa.[7]
Meskipun istilah ulasan atau secara
terminologi adalah untuk menjelaskan Apa hubungan antara kitab suci/surat
dengan kitab suci/surat lainnya? Itu antara Am dan Khosnya atau abstrak dan
Secara khusus, antara sebab dan akibat, atau
antara Illat dan mu'lul, atau antara Rasionalitas dan irasionalitas
atau bahkan kontraksi antara dua hal sekalipun.[8]
Dapat dipahami dari beberapa
definisi di atas bahwa posisi adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antar
ayat atau ayat Al-Qur’an. Apa jenis hubungan ini? Berupa hubungan antara am
(umum) atau khas (khusus), abstrak dan konkret, antara sebab dan akibat, antara
materi dan akibat, antara rasional dan irasional, atau antara dua hal yang
kontradiktif dan tidak logis.
Jadi konsep munasabah tidak hanya
cocok dalam arti yang sama paralel, tetapi bahkan kontradiksi menjadi berarti
pelanggan. Bagaimana, setelah menjelaskan kepada orang beriman, menjelaskan
kafir dan sebagainya.[9]
Sejarah Perkembangan Ilmu Munasabah
Sejarah menunjukkan bahwa Al-Qur'an
diturunkan selama periode sekitar 22 tahun dan bulan. Buku ini berisi berbagai
macam petunjuk dan aturan yang tersirat karena beberapa alasan dan berbagai
macam hikmah, puisi diturunkan sesuai dengan keadaan dan kondisi yang
mengharuskannya. Penempatan huruf-hurufnya dikendalikan agar terkandung dalam
mahfudh lauh, sehingga seolah-olah ada kesesuaian antara puisi yang satu dengan
puisi yang lain. Berasal dari cabang Ulum Al-Qur’an, yang secara khusus
membahas tentang koordinasi disebut Ilmu Munasabah al-Quran.Orang pertama yang
menulis ilmu Munasabah adalah Abu Bakar Ann Naisabury (32411).[10]
Dalam tahap perkembangannya,
sebagian orang mengatakan bahwa ilmu ini diciptakan oleh Abu Bakar al-Naisabury.
Ia mengajukan beberapa pertanyaan tentang ilmu ini, yaitu apakah sebuah ayat
melengkapi ayat sebelumnya, ataukah sebuah ayat berdiri sendiri? Jika ada
sendiri, bagaimana cara yang benar? Dengan paragraf sebelumnya? Meskipun urutan
wahyu dalam suatu perikop bukan tanpa keraguan.
Prasejarah munculnya ilmu ini
dikaitkan dengan posisi para komentator. Dia
bertanya-tanya memngenai hubungan
antara satu huruf dalam surah lain, dari satu ayat ke ayat lainnya, seolah-olah
ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Pengetahuan ini juga
digunakan untuk salah satu teori tafsir, yaitu metode tafsir maudhui التفسير.
Masalah pembahasan ilmu kedudukan
mencapai klimaksnya dalam Al-Qur'an. Dengan usaha Ibrahim bin Umar Al-Baq'i
(809-885 H).Tapi korelasinya di sini menurut ayat Al-Qur'an dan penyusunan
surat-surat yang sistematis ternyata termasuk dalam urutan mushaf, bukan dalam
hal korelasi ayat kami membicarakan masalah yang sama, terkadang beberapa di
antaranya tersebar dalam beberapa surat.[11]
Ringkasnya, Sejarah ilmu munasabah Al-Qur'an
tampaknya memberikan solusi yang komprehensif untuk masalah Al-Qur'an, bukan
hanya berfokus pada puisi, tetapi studi dilakukan di seluruh surat. Harus dan
bahkan di seluruh Al-Qur'an, terutama dalam puisi. Hal ini terkait dengan
masalah yang sedang dibahas untuk membawa pemahaman yang lengkap tanpa
menimbulkan kebingungan.
Hingga saat ini belum banyak ulama
yang berkecimpung di bidang munasabah Al-Qur'an, namun pada Wahbah Az-Zuhaili
dalam Tafsir al-Munir, beliau menggunakan metode munasabah untuk menghubungkan
topik-topik antar kitab suci dalam suatu diskusi. Selama ini pengetahuan
semacam ini baru diperkenalkan ke dalam objek ilmu Al-Qur'an sebagai bentuk
atau bagian dari ilmu keislaman..[12]
Salah satu karya yang muncul
kemudian dengan pembahasan yang spesifik dan sistematis tentang ilmu kedudukan
adalah Durat al-Tanzil dan Ghorat al-Ta’wil of the Cobbler’s Book (w. 420 H).
Karya ini menempati peringkat sebagai buku ekspositori tertua di bidang studi
ini. Setelah itu
dilanjutkan dengan karya Taj Al-Qara' Al-Karmani (w. 505 H) yang
berjudul Al-Burhan fi Guiding Mitzpeh the Qur'an. Pada periode
berikutnya, Kitab Al-Burhan muncul dalam kompetisi penyusunan ayat-ayat Al-Qur’an
oleh Abd’ Ja’far bin Al-Zubair Al-Andalusi. Kemudian Burhan Al-Din Al-Beqa'i
menulis buku khusus tentang posisi yang berjudul "Nitam Al-Durar fi
Tatasimul Ayat dan Al-Sawwar." Dari semua buku yang ada, para ulama
cenderung mengatakan bahwa karya al-Baq'i tampaknya yang paling lengkap.[13]
Bentuk-bentuk Munasabah
Susunan sistematis ayat-ayat dalam
Al-Qur'an merupakan salah satu keajaiban Al-Qur'an yang berbeda, yang
membuktikan bahwa Al-Qur'an tidak hanya memiliki keunggulan dalam bahasa, tetapi
juga memiliki keunggulan dalam konsistensi ayat-ayat yang diilhami oleh Allah
dan ayat-ayat yang ditulis oleh Allah. Kali ini, dalam konteks atau diskusi,
saya menemukan sebuah ayat atau surat dalam Al-Qur'an, dan hubungan atau
keselarasannya dengan beberapa redaktur. Keserasian ini dapat terjadi antara
ayat dan kalimat dalam sebuah kalimat, antara awal surat dan akhir surat,
antara pengucapan yang sama dari satu huruf dan pengucapan yang sama dari huruf
lain, dan antara nama pesan dan isinya.[14]
Dilihat dari sifat Munasabah atau
keadaan keserasian dan kesinambungan, ada dua jenis Munasabah:
1.
Kesesuaian nyata (dzāhirul irtibath) atau
kesesuaian tampak jelas bahwa kesinambungan atau konsistensi jelas di antara
bagian-bagian lain dari Al-Qur’an dan kuat karena kalimatnya terhubung sangat
dekat satu sama lain itu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika
dipisahkan dalam kalimat lain.[15] Misalnya adalah hubungan antara bagian 1 dan bagian 2 dari surah Al-Isra',
yang menjelaskan tentang Israel Nabi Muhammad, dan kemudian informasi tentang
wahyu Tarurat kepada Nabi Musa (as).
Terlihat jelas dari kedua ayat ini memberikan informasi tentang pengutusan nabi
dan rasul.
2.
Hubungan
tidak jelas (khafiyul irthibath) Artinya posisi ini terjadi karena
ketidaksesuaian antara bagian-bagian Al-Qur'an dan seolah-olah tidak ada.
Hubungan antara keduanya sehingga setiap ayat ditampilkan secara mandiri,
terlepas dari apakah ayat itu terkait dengan ayat lain, bukan karena
bertentangan dengan ayat lain..[16]
Menurut Al-Zarkasyi, munasabah yang
mempunyai bentuk jelas tersebut,
meliputi bentuk-bentuk: ta’kid, tafsir, i’tiradh, dan tasydid.
Bentuk Ta’kid
Munasabah dalam bentuk ta'kid
memiliki tujuan, yaitu jika suatu bagian atau bagian memperkuat bagian atau
bagian dari bagian lain di sebelahnya, misalnya: al-hamdu lillâhi rabb al-' berarti âlamîn menurut
Artinya dari al-rahmân al-rahm dikuatkan,
artinya: Allah adalah penguasa seluruh alam, yang paling baik dan paling baik,
yang paling baik dan paling baik.[17]
Bentuk Tafsir
Dalam bentuk tafsir, Munasabah
berarti puisi atau maknanya dijelaskan oleh puisi di sebelahnya.
Bentuk I’tiradh
Dalam munasabah, Itiradha berarti
pengenaan proposal yang tidak memiliki posisi di i'rab; di tengah kalimat atau diantara
dua kalimat yang memiliki hubungan makna. Bagi mereka yang berbicara bahasa
(fasih) bahasa di Itiradha, ia harus menentukan tujuan tertentu,selain mencari
kejelasan
Bentuk Tasydid
Bentuk tasydid Munasabah ini berarti
ayat atau bagian ayat yang memperkuat makna ayat di sebelahnya.[18]
Sedangkan Munasabah yang dalam
bentuk tidak jelas dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.
Yaitu diathafkannya ayat yang satu dengan ayat
yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surat Ali-Imran :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا[19]
Dan berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah
kalian bercerai berai.
dengan ayat 102 surat Ali-Imran:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ[20]
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu semua kepada Allah
dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kalian mati
melainkan dalam keadaan Islam.
Utilitas
Athaf dari Munasabah ini adalah untuk membuat dua ayat menjadi dua yang identik
(an-nadhirain). Surat Ali-Imran Surat 102 perintah pengabdian, dan Surat Ali-Imran
ayat 103 memegang tali Allah dengan kuat. Salah satu yang menjelaskan bahwa
mereka adalah dua yang sama..[21]
2.
Tidak
diathafkan ayat yang satu kepada yang lain seperti munasabah antar ayat 11
surah Ali-Imran :
كَدَأْبِ
اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ
Keadaan mereka) adlah sebagai keadaan kaum firaun dan orangorang
yang sebelumnya, mereka mendustakan ayat-ayat kami.
Dengan ayat 10 surat Ali-Imran :
اِنَّ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ
مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ
Sesungguhnya orang-orang kapir, harta benda dan anak-anak mereka
sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dar mereka. Dan Mereka itulah bahan
bakar api neraka.[22]
Dalam Munasabah ini, ayat 11 dianggap sebagai kelanjutan dari ayat
10 karena kuatnya hubungan antara ayat 2 (Ali-Imran pada ayat 11) dengan ayat
sebelumnya (Ali-Imran pada ayat 10)..[23]
Urgensi Mempelajarai Ilmu Munasabah Al-Qur’an
Melihat Penjelasan-penjelasan yang ada
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penting bagi kita mengetahui akan penting
nya Ilmu Munasabah itu, dari bagaimana Sejarah Perkembangan Ilmu Munasabah
sampai pada Bentuk-bentuk dari Munasabah. Berikut Urgensi Mempelajari Ilmu
Munasabah :
1. Anda
dapat menemukan relasi atau hubungan antar bagian Al-Qur'an, antar kalimat atau
syair, dan antar bagian Sula Al-Qur'an untuk lebih memperdalam pengetahuan dan
keakraban Anda dengan Al-Qur'an serta memperkuat wahyu dan keyakinan Anda
tentangnya. adalah. Oleh karena itu, Izzuddin Abd’ kata salam,, Ilmu Munasaba
adalah ilmu
yang sangat bagus. Kapan hubungkan
satu kalimat ke kalimat lainnya Dia memintanya untuk menjadi masalah terkait sungguh,
apakah itu awal atau akhir.
2. Dengan
Ilmu Munasabah kamu bisa melihat kualitas dan levelnya saling konteks penodaan
bahasa Al-Qur'an dan kalimatnya, serta kesesuaian ayat atau lebih meyakinkan, dari satu surah ke surah
lainnya ajaib, Al-Qur'an benar-benar wahyu dari Allah dan diciptakan oleh
Allah, dan Nabi Muhammad. Untuk itu Imam Fafludin Arlaj, kebanyakan orang
berkata keindahan Al-Qur'an adalah susunannya korespondensi, pola kalimat
paling dewasa (Sastra) adalah interkoneksi antara bagian-bagian yang berbeda yang
satu adalah yang lain.
3.
Ilmu
Munasabah sangat memudahkan dalam menafsirkan hukum dan isinya, karena dapat
dengan mudah membantu dalam penafsiran syair-syair Al-Qur'an setelah mengetahui
hubungan antara satu kalimat / beberapa syair dengan syair lainnya / syair meningkat..
4.
Pengetahuan
munasabah dapat membantah sebagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Qur’an
kehilangan relevansinya antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Bagi
kita, munasabah dapat dipergunakan sebaik mungkin apabila ia tidak menyimpang
dari apa yang telah dijelaskan dalam asbabun nuzul.[24]
Menurut Prof. Dr. H. Rachmat
Syafe’I, MA, urgensi dalam mempelajari munasabah, antara lain:
1)
Alasan
mereka muncul di hadapan Al-Qur'an adalah karena mereka tidak mengetahui Muna
Saba, sehingga mereka melakukan kesalahan ketika berhadapan dengan Al-Qur'an.
2)
Intensifikasi
pengertian Al-Qur’an.
Mengingat pentingnya peran Munasabah
sebagaimana tersebut di atas, Komentator seperti Ibn’ Arabi munasabah adalah
ilmu yang agung dan mulia, hanya untuk orang-orang tertentu saja. Anda bisa
menggalinya. Al-Zarkasyi juga menekankan pentingnya ilmu ini, Munasabah adalah
ilmu yang sangat mulia,pertahankan pemikiran Anda, luruskan dan kenali tingkat
kemampuan Anda dengan berbicara.[25]
Penutup
Dengan berbagai Uraian-uaraian
diatas dapat saya simpulkan bahwa Ilmu Munasabah adalah Ilmu yang menjelaskan
persesuaian ayat/surat dalam Al-Qur’an
baik didepan atau dibelakangnya. Dan secara ringkas Sejarah Perkembangan Ilmu
Munasabah adalah digunakan untuk membahas secara keseluruhan yang ada dalam
Al-Qur’an tidak hanya berfokus pada ayat/surat Al-Qur’an. Urgensi atau
Pentingnya mempelajari Ilmu Munasabah dengan mudah membantu kita mengetahui
adanya hubungan ayat/surat dengan ayat/surat yang lain, juga membantu dalam
menafsirkan Al-Qur’an.
Daftar Pustaka
Ajahari.UlumulQuran(Ilmu-Ilmu Alquran).Yogyakarta:Aswaja
Pressindo.2018.
Auf,Adi dkk. 2016.Munasabah Al-Qur’an.Makalah.
Digilibuinsby.Teori Kisah Munasabah.UIN
Sunan Ampel. diakses Januari 4, 2022, http://digilib.uinsby.ac.id/15821/4/Bab%202.pdf
Merdeka.com.Al-Qur’an
Digital.Q.S Ali Imron:10-11 diakses Januari 5, 2022 https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-10-11
__________________________Q.S
Ali Imron:102 diakses Januari 5, 2022 ___https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-102
____________________________,Q.S
Ali Imron:103 diakses Januari 5, 2022 https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-103
Muslimin,Moh.Munasabah dalam Al-Qur’an.Tribakti,
Vol.14, No.2, (2005).
Rizki,Fahada.Studi
Analisis Ilmu Munasabah Al-Qur’an.Skripsi.Banda Aceh:Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir.Universitas Islam Negeri Ar-raniry.2016.
Waseso,
Hendri Purbo.Ilmu Munasabah Sebagai Pendekatan dalam Pendidikan Islam,Manarul
Quran,Vol.X, No.13,(2016)
Yusuf,M.S.Penggunaan Ilmu Munasabah dalam
Istibath Hukum.Jurnal Tajdid, Vol.26,No.2,(2019)
[1]Ajahari, Ulumul
Quran(Ilmu-Ilmu Alquran),(Yogyakarta:Aswaja Pressindo,2018) 61
[2]Adi Auf dkk.
2016.Munasabah Al-quran.Makalah
[3]Fahada Rizki,”Studi
Analisis Ilmu Munasabah Al-Qur’an”,Skripsi,(Banda Aceh:Ilmu Al-quran dan
Tafsir,Universitas Islam Negeri Ar-raniry,2016),15
[4]Fahada
Rizki,”Studi Analisis Ilmu Munasabah Al-Qur’an”,Skripsi,(Banda Aceh:Ilmu
Al-quran dan Tafsir,Universitas Islam Negeri Ar-raniry,2016),16
[5]Adi Auf dkk.
2016.Munasabah Al-Qur’an.Makalah
[6]Fahada
Rizki,”Studi Analisis Ilmu Munasabah…….”,17
[7]Fahada
Rizki,”Studi Analisis Ilmu Munasabah…….”,18
[8]Moh
Muslimin,”Munasabah dalam Al-quran”,Tribakti,(vol.14, No.2,Th.2005) 2.
[9]Ibid, 65
[10]Moh
Muslimin,”Munasabah dalam Al-quran”,Tribakti,(vol.14, No.2,Th.2005) 4
[11]Fahada
Rizki,”Studi analisis ilmu munasabah al-quran”,Skripsi,(Banda Aceh:Ilmu
Al-quran dan Tafsir,Universitas Islam Negeri Ar-raniry,2016),18
[12]Ibid, 19
[13]Digilibuinsby,”Teori Kisah Munasabah”, UIN Sunan
Ampel, diakses Januari 4, 2022, http://digilib.uinsby.ac.id/15821/4/Bab%202.pdf
[14]Fahada
Rizki,”Studi Analisis Ilmu Munasabah Al-Qur’an”,Skripsi,(Banda Aceh:Ilmu
Al-quran dan Tafsir,Universitas Islam Negeri Ar-raniry,2016),20
[15]Ajahari, Ulumul
Quran(Ilmu-Ilmu Alquran),(Yogyakarta:Aswaja Pressindo,2018) 68
[16]Hendri Purbo
Waseso,”Ilmu Munasabah Sebagai Pendekatan dalam Pendidikan Islam”,Manarul
Quran,Vol X,No 13,(2016): 68, 913-Article
Text-1456-1-10-20191104.pdf
[17]M.S Yusuf, “Penggunaan Ilmu Munasabah dalam Istibath
Hukum”,Jurnal Tajdid,Vol. 26,No.2, (2019): 133 http://riset-iaid.net/index.php/tajdid/article/download/332/316.
[18]Ibid, 134
[19]Merdeka.com, “Al-Qur’an Digital”, Q.S Ali
Imron:103 diakses Januari 5, 2022 https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-103
[20]Merdeka.com, “Al-Qur’an Digital”, Q.S Ali Imron:102 diakses Januari 5, 2022 https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-102
[21]Moh
Muslimin,”Munasabah dalam Al-quran”,Tribakti,(vol.14, No.2,Th.2005) 6.
[22]Merdeka.com, “Al-Qur’an Digital”, Q.S Ali Imron:10-11
diakses Januari 5, 2022 https://www.merdeka.com/quran/ali-imran/ayat-10-11
[23]Ajahari, Ulumul
Quran(Ilmu-Ilmu Alquran),(Yogyakarta:Aswaja Pressindo,2018) 71.
[24]Ajahari, Ulumul
Quran(Ilmu-Ilmu Alquran),(Yogyakarta:Aswaja Pressindo,2018) 80-81.
[25]Adi Auf dkk.
2016.Munasabah Al-Qur’an.Makalah
Komentar
Posting Komentar