URGENSI
BELAJAR FILSAFAT BAGI UMAT ISLAM
(Pentingnya mempelajari filsafat Islam)
Vivi
Adelia
Ilmu
Hadist Fakultas Ushuludin dan Filsafat
Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
viviadele86@gmail.com / 07040521085@student.uinsby.ac.id
PENDAHULUAN
Filsafat merupakan bagian integral dari kehidupan
manusia. Contoh Seorang anak kecil dilarang bermain hujan oleh orang tuanya
agar tidak sakit demam, Anak tersebut akan bertanya kepada orang tuanya
“Mengapa aku tidak boleh bermain hujan ma?” Apa yang dilakukan anak laki-laki kecil
itu adalah bagian dari langkah pertama dalam berfilsafat, yaitu menemukan
jawaban yang benar atas sesuatu dalam pikirannya.
Filsafat sendiri memiliki arti yang lebih
dikenal luas yaitu filsafat (Inggris), filsafat (Prancis), filsafat,
wijsbegeerte (Belanda), filsafat (Latin).Istilah filsafat berdasarkan bahasa
Arab yaitu لسفة (Filsafat). Filsafat
Yunani adalah bentuk yang didasarkan pada philos atau filo & sophia atau
sofia.
Filsafat
adalah pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan merupakan merenung.
Namun merenung bukanlah melamun. Juga bukan berpikir secara kebetulan yang
bersifat untung-untungan. Perenungan kefilsafatan merupakan percobaan buat
menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai buat tahu global
loka kita hidup, juga buat tahu diri kita sendiri.(Edi Sumanto, M. Ag,2019:
1-2)
Filsafat
juga sering dicermati menjadi pemikiran
yang membingungkan bahkan menyesatkan umat manusia. Pandangan semacam ini
tentunya sangat disayangkan, lantaran filsafat secara esensial justru sangat
krusial ialah bagi kehidupan manusia, khususnya pada menuntaskan banyak sekali
dilema humanisme. Filsafat secara generik merupakan berpikir secara menyeluruh,
mendalam, radikal & rasional, mengenai sesuatu.
Menurut
Syamsuddin Arif & Dinar Dewi Kania pada Adian Husaini, filsafat itu mencari
kebenaran. Dengan bertanya secara terus menerus mengenai segala hal,
berdasarkan dilema gajah hingga dilema semut, berdasarkan soal hukum, &
politik sampai soal moral & metafisika & sebagainya. Rizal & Misnal
yang dikutip Himyari Yusuf juga mengemukakan pendapat bahwa filsafat adalah
sebuah disiplin ilmu yang terkait menggunakan wacana kebijaksanaan. Sedangkan
kebijaksanaan adalah titik ideal pada kehidupan manusia, lantaran dia bisa
berakibat insan buat bersikap & bertindak atas dasar pertimbangan humanisme
yang tinggi. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa filsafat adalah berpikir
secara menyeluruh, radikal & rasional menjadi proses yang tanpa henti buat
mencari kebenaran secara terus menerus & dalam akhirnya bisa tahu makna
segala sesuatu termasuk makna kehidupan manusia (Himyari Yusuf,2016:52).
Himyari Yusuf (2016:54) mengutarakan, Memang secara ontologis kepercayaan & filsafat berbeda.
Agama misalnya diyakini juga diamalkan sang pemeluknya & dari berdasarkan
Tuhan, sedangkan filsafat adalah sang pikir manusia. Agama diturunkan menjadi
panduan moral buat insan menggunakan cara tahu, menafsirkan &
mengamalkannya. Di sisi lain, filsafat adalah olah pikir refleksif insan
sebagai akibatnya memungkinkan buat menyebarkan kemampuan tahu &
menafsirkan buah-buah ajaran kepercayaan . Dengan demikian filsafat berfungsi
menjadi supporting factor bagi pemeluk kepercayaan buat mempertinggi kualitas
peribadatannya.
Konsekuensi
berdasarkan pandangan pada atas membuat pencerahan bahwa obyek filsafat, yang
mencakup yg terdapat & yang mungkin terdapat, memiliki kedudukan hirarkhis
berdimensional, merupakan bahwa masih ada aneka struktur global yg isomorphis
satu menggunakan yg lainnya pada dimensi yang berbeda-beda. Perbedaan dimensi
struktur global menggunakan dua elemen yang saling berinteraksi yaitu “nasib”
dan “usaha” untuk menentukan karakter setiap penduduk. secara bergerak maju
& kontekstual sebagai akibatnya menaruh insan karakter final (tertutup)
& karakter berubah (terbuka). Interaksi keadaan karakter insan yang
tertutup & terbuka itulah yang memungkinkan insan buat menggapai dimensi
yang lebih tinggi, atau malah terperosok ke kebalikannya ke dimensi yang lebih
rendah.(Prof DR. Marsigit, M.A,2013:6)
Dari berbagai
pengertian diatas mengenai Filsafat dan Agama Islam dapat disimpulkan bahwa
disini penulis ingin mengulas lebih jauhSeberapa penting mempelajari ilmu
filsafat khususnya bagi umat islam atau
urgensi belajar filsafat bagi umat
islam? Mari kita ulas pertanyaan-pertanyaan ini dengan pembahasan berikut ini.
PEMBAHASAN
Pengertian filsafat antara lain
harus mengetahui terlebih dahulu bahwa isi filsafat itu sangat luas. Keluasan
ini disebabkan oleh luasnya subyek penelitian (objek material) filsafat, yaitu
segala sesuatu yang ada dan dapat ada.Alasan lainnya adalah bahwa filsafat
adalah cabang ilmu yang paling tua, dan alasan ketiga adalah bahwa filsafat
merupakan cabang ilmu yang paling tua. tidak ada pendapat filosof yang tidak
layak dipelajari, tidak ada filsafat yang dapat dipelajari. Lalu, Apa urgensi
mempelalajari ilmu filsafat bagi umat islam, apa agama melarangnya ? (Edi
Sumanto, M.Ag, 2019 : 13)
Di pada
tradisi intelektual Islam, kita temukan 3 kata yg generik digunakan untuk
“sophia”. Pertama, pesan yang tersirat: kata ini digunakan sang generasi awal pemikir
Muslim menjadi padanan kata “sophia”. Lafaz “pesan yang tersirat” ini
sepertinya sengaja dipilih agar lebih gampang diterima sang kaum Muslim agar
terkesan bahwa filsafat itu nir bertentangan menggunakan ajaran Islam akan
namun justru berhulu & bermuara dalam al-Qur’an. Al-‘Amiri, misalnya,
menulis bahwa pesan yang tersirat dari menurut Allah, & pada antara insan
yang pertama dianugerahi pesan yang tersirat sang Allah artinya Luqman
al-Hakim.Disebutnya
ketujuh filsuf Yunani kuno sebagai ahli yaitu Thales, Solon, Pittacus, Bias,
Cleobulus, Myson dan Chilon. (Syamsuddin Arif, 2014:5)
Syamsuddin, Arif (2014: 14) Mengutarakan, Mungkin masih banyak yang
bertanya-tanya, apa pentingnya kita menyelidiki filsafat Islam. Setidaknya
terdapat beberapa jawaban yang mampu kita kemukakan bagi pertanyaan ini,
terutama apabila kita jangan lupa bahwa nir sedikit & telah semenjak usang
orang-orang Eropa yang nota bene bukan Muslim pun menggunakan berfokus
menyelidiki & mengajarkan filsafat Islam. Begitu jua bila pertanyaan tadi
dibalik: Apa karena orang-orang Islam tertarik menyelidiki filsafat & aneka
macam cabang ilmu pengetahuan berdasarkan peradaban Yunani, Persia, India antik
yang nota bene bukan Islam itu?
Jawaban
pertama, menjadi aktivitas ilmiah, filsafat Islam misalnya halnya filsafat
Hindu, Buddha, Kristen, & lainnya adalah bagian menurut bepergian
intelektual insan mencari kebaikan, menemukan kebenaran & menegakkan
keadilan –sebuah asa universal yang ingin dicapai sang setiap bangsa apapun
agamanya, budayanya, & bahasanya. Maka menilik filsafat Islam itu suatu
keniscayaan, mengingat obor ilmu pengetahuan dipegang sang umat Islam selama
berabad-abad dalam Kurun Pertengahan (Middle Ages atau Medieval Times). Kedua,
bagi mereka yang haus ilmu & cinta kearifan, menilik filsafat itu sama
menggunakan mencari pesan tersirat yang hilang atau tercecer pada manapun
adanya perlu dikejar & menurut manapun datangnya perlu diambil. Ketiga, nir
sedikit yang menyelidiki filsafat Islam semata-mata didorong sang rasa ingin memahami
belaka, sebuah kesamaan alami dalam setiap insan menjadi fauna berakal.
Terakhir, mungkin jua sebagaimana Ibnu Sina atau Aquinas, motivasi orang
menilik filsafat bersifat religius pragmatis pada arti buat membentuk argumen
rasional demi mengukuhkan keyakinan kepercayaan masing-masing, bagaimana
keimanan itu sanggup dipertahankan secara akal. Maka lahirlah konsep Wajib
al-Wujud, huduth, & argumen-argumen ontologis, kosmologis, teleologis &
sebagainya itu.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini, baik itu makhluk ciptaan
Allah maupun ilmu yang dianugerahkan kepada manusia, selama dipelajari dan
dipraktikkan dengan benar, tentu ada manfaatnya. Oleh karena itu, belajar
filsafat memiliki beberapa keunggulan, berikut urgensi belajar filsafat Islam:
a) Dengan belajar filsafat, kita akan
semakin mandiri secara intelektual.
Sebagaimana
yang Allah firmankan dalam surat ar-Ra’d ayat 11:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا
بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: Sesungguhnya Allah
tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri
mereka sendiri.
Dalam
ayat ini Allah hendak mengingatkan bahwa manusia juga mempunyai kuasa atas
dirinya untuk mengubah keadaannya. Ia bisa melakukan perbuatan buruk atas
keinginannya juga sebaliknya. Ayat ini juga mengandung perintah untuk bersikap
mandiri. Yaitu, jikalau menginginkan perubahan maka segeralah mulai untuk diri
sendiri, jangan menunggu orang lain.
Mandiri
tak berarti tidak membutuhkan orang lain. Hanya saja kita melatih diri untuk
terbiasa tidak berharap pada makhluk.
b)
Filsafat membantu membebaskan manusia dari pemikiran yang misterius
dengan membimbing mereka untuk berpikir secara rasional.
c)
Bertanggung jawab. Seseorang dengan filosofi bertanggung jawab,
setidaknya tidak hanya untuk memikirkan hati nuraninya, sebagai hasil dari
pikirannya.
Sebagaimana yg Diriwayatkan sang Anas ra. Rasulullah SAW bersabda,
“Allah SWT akan mempertanyakan seluruh orang yg memegang jujur atas jujur yg
dia tanggung, apakah dia memeliharanya atau menyia-nyakannya? Hingga Allah SWT
akan mempertanyakan seorang dalam keluarganya.” (HR. Muslim).
Pembelajaran & pedagogi filsafat pada global Islam sampai
sekarang masih terkendala sang poly hal. Pertama, ada gambaran kekeliruan bahwa
studi filsafat itu sulit dan rumit, selain anggapan umum bahwa studi filsafat
tidak ada gunanya membuang saat saja lantaran nir mendatangkan manfaat irit
& nir kentara apa gunanya. Menjadi tugas para guru, dosen & ilmuan buat
menepis asumsi semacam itu & menunjukkan hakikat filsafat &
keuntungannya buat mengasah keterampilan berpikir analitis, kritis, &
kreatif, dan kemampuan mengutarakan hujah atau argumen secara logis &
ilmiah. Bahwa terdapat masalah-masalah memprihatinkan pada kalangan mahasiswa
yang sebagai ateis, melecehkan nabi & ulama, mengabaikan kewajiban agama,
& sebagainya, hal itu bukan semata-mata ditimbulkan sang filsafat menjadi
disiplin ilmu, melainkan lebih lantaran perilaku mental yg tidak baik alias sû’
al-adab (nir memahami diri) & diabolisme intelektual (merasa diri hebat,
angkuh, membangkang, mengingkari kebenaran, & melecehkan otoritas). (Syamsuddin
Arif, 2014 : 15)
PENUTUP
Diatas itu
semua dapat ditarik kesimpulan Bahwa sangat penting mempelajari Filsafat
terlebih lagi bagi Umat Islam, Selain mnambah
pengetahuan memeriksa ilmu filsafat pula memeperoleh poly manfaat.Mempelajari
Filsafat hendaknya dilandasi keyakinan & akidah spiritualitas yang kokoh.
Filsafat merupakan pikiran para Filsuf, maka memeriksa Filsafat merupakan
memeriksa pikiran para Filsuf. Islam merupakan hidayah yang diberikan Allah SWT
pada umat Nya supaya selamat pada global & akhirat. Dengan akidah Islam,
insan meyakini semua ajaran Islam. Iman pada Allah SWT adalah starting point
ibadah & pemikiran Islam. Fungsi Filsafat merupakan memperjelas &
memperkaya bentuk atau formnya & pula substansinya supaya nilai karakter
Islamiah bisa ada melalui bentuk material, formal, normative &
spiritualnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Syamsuddin. 2014. "Filsafat
Islam Antara Tradisi dan Kontroversi". Tsaqafah: Journal
of Islamic Thought and Civilization. Vol. 10. No. 1
Edi Sumanto, 2019. Filsafat Jilid I. Bengkulu:Vanda
Himyari Yusuf 2016. “Urgensi Filsafat dalam Kehidupan
Masyarakat Kontemporer: Tinjauan Filsafat Islam dalam Fungsi Moral dan Agama”. Theologia:Journal
of Theologi. Vol 27.No.1
Prof Dr.Marsigit, M.A 2013. “Urgensi Filsafat Dalam
Pendidikan Islam Untuk Pembentukan Karakter”Diaksesdari http://staffnew.uny.ac.id/upload/131268114/pengabdian/urgensi-filsafat-dalam-pendidikan-islam-untuk-membentuk-karakterunpab-medan.doc pada 29 Desember 2021
wahhh bermanfaat
BalasHapusmasyaAllah sangat membantu sekali terima kasih kak semoga ilmunya berkah
BalasHapusalhamdulilah sangat membantu🙏🏻
BalasHapusnice
BalasHapus⭐⭐⭐⭐⭐
BalasHapussangat membantu🙏
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusBermanfaat sekali ilmunya
BalasHapuspenjelasan yang diberikan sangat menarik dan bermanfaat
BalasHapus